Respon 3 : Iklim Organisasi dan Iklim Komunikasi Organisasi

Iklim, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai suasana, atau keadaan. Sedangkan iklim organisasi itu sendiri menurut Davis and Hewstrom adalah lingkungan dimana para karyawan suatu organisasi melakuan pekerjaan mereka.
Menurut Gibson, Ivancevich dan Donelly iklim organisasi adalah serangkaian keadaan lingkungan yang dirasakan secara langsung maupun tidak langsung oleh karyawan.
Sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa iklim organisasi adalah serangkaian keadaan/suasana yang ada dalam lingkungan organisasi yang dapat mempengaruhi organisasi itu sendiri dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam organisasi terdapat pula iklim komunikasi. Nah, iklim komunikasi inilah salah satu faktor  pembentuk  iklim organisasi. Hubungan komunikasi setiap pegawai yang  terjalin dengan baik ataupun buruk, akan mempengaruhi cara hidup orang-orang dalam sebuah organisasi dan tentu saja mempengaruhi perkembangan organisasi. Iklim Komunikasi memberi pedoman bagi keputusan dan perilaku individu. Keputusan yang diambil oleh masing-masing individu untuk melaksanakan pekerjaan secara efektif, bersikap jujur dalam bekerja, meningkatkan loyalitas, ataupun  untuk mendukung rekan kerja  lainnya. 
Iklim organisasi bisa menjadi sangat baik, baik, sedang, cukup baik atau kurang baik. Sedangkan iklim komunikasi bisa sangat efektif, efektif, cukup efektif, kurang efektif, bahkan tidak efektif.
Hal yang sangat penting diperhatikan oleh pemimpin dan karyawan adalah bagaimana menciptakan komunikasi yang baik sehingga iklim yang terbentuk adalah iklim komunikasi yang positif.
Jadi, apa yang mempengaruhi iklim komunikasi organisasi?




(RESPON 2) KOMUNIKASI DAN KINERJA
Kinerja adalah hasil kerja dari seorang karyawan yang telah diberi tanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang telah diberikan.  Dalam mendelegasikan tugas tentu dibutuhkan komunikasi antara si pemberi tugas dan si pengemban tugas. Dalam hal ini, komunikasi berperan penting dalam pemberian job description kepada bawahan. Konsep kerja yang telah jelas dan sistematis tentu memudahkan kinerja pegawai serta menghidari adanya misskomunikasi.
Tingkat keberhasilan Kinerja pegawai ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor kemampuan, motivasi, skill dan kondisi tubuh. Dalam kinerja pegawai juga perlu diadakan pengukuran agar dapat dijadikan dasar ataupun tolak ukur sejauh mana tingkat kemajuan pegawai dan sebagai bahan evaluasi kerja pegawai agar melaksanakan tugas secara efektif. Ada 6 kriteria utama yang digunakan untuk mengukur kinerja, yaitu:
1.       Quality, yaitu sejauhmana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan atau sesuai keinginan.
2.       Quantity, yaitu seberapa jumlah yang dihasilkan dari kinerja tersebut
3.       Timelines, yaitu kurun waktu yang digunakan dalam mengerjakan suatu tugas
4.       Cost effectivieness, yaitu tingkat sejauh mana penggunaan daya suatu organisasi secara efektif
5.       Need for Supervisor, yaitu tingkat sejauh mana seorang pegawai dalam melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa pengawasan supervisor untuk mencegah tindakan yang tidak diinginkan
6.       Interpersonal impact, yaitu tingkat sejauh mana karyawan atau pekerja memelihara harga diri, nama baik dan kerjasama dalam lingkungan kerja.

Selain itu, ada 7 elemen dalam meningkatkan  kinerja, yaitu:
- strategi
- struktur
- sistem
- skill
- staff
- style
- shared values




Kepemimpinan merupakan sifat, kapasitas dan kemampuan seseorang dalam memimpin. Setiap pemimpin mempunyai gayanya sendiri dalam memimpin.  Ada berbagai jenis gaya kepemimpinan yang muncul, diantaranya gaya otoriter, gaya country-club, gaya tim dan lain-lain,situasional maupun transformasional. Gaya-gaya tersebut masih akan berkembang seiring berjalannya waktu, dan gaya-gaya kepemimpinan yang lain juga akan bermunculan. Pemilihan gaya yang cocok digunakan dalam sebuah organisasi ditentukan oleh beberapa faktor, seperti kondisi organisasi, dan jenis organisasi.
Gaya kepemimpinan yang digunakan, sedikit-banyak mempengaruhi produktivitas kerja, dan motivasi kerja karyawan. Setiap gaya kepemimpinan memiliki kekurangan dan kelebihan, jadi diperlukan analisis yang baik dalam menerapkan gaya kepemimpinan seperti apa yang sesuai dengan jenis organisasi yang dijalankan.
Dalam organisasi, komunikasi sangat dibutuhkan untuk kelancaran suatu organisasi, tanpa adanya komunikasi suatu informasi, ataupun  ide/gagasan tidak akan tersampaikan dengan baik. Pola komunikasi harus disesuaikan dengan kondisi organisasi yang sedang terjadi.  Pola komunikasi yang digunakan dalam setiap gaya-gaya kepemimpinan tentu berbeda pula, ada yang model komunikasi satu arah, ada yang dapat membutuhkan umpanbalik dan sebagainya. Hubungan komunikasi yang dibangun tentu mempngaruhi jalannya organisasi.

Bila berbiacara mengenai komunikasi,tak jauh dari pembahasan mengenai hubungan antara individu yang berusaha untuk saling bertukar informasi guna menambah pengetahuan dan pengalaman mereka.Dalam bahasan ini dibahas tentang komunikasi dan kepemimpinan,terutama dalam komunikasi organisasi,dalam sebuah organisasi harus ada komunikasi yang baik antar bawahan dan atasan agar keseimbangan dalam organisasi berjalan dengan baik.




A.      DEFINISI KEPEMIMPINAN

          Untuk memahami kepemimpinan perlu dibedakan terlebih dahulu antara pemimpin dan kepemimpinan.Miftha Thoha dalam bukunya Perilaku Organisasi (1983:255) mengatakan bahwa pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan memimpin,artinya memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain atau kelompok tanpa mengindahkan bentuk alasannya.Kemudian Robert Tanembaum mendefinisikan pemmpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan,mengarahkan,mengontrol para bawahan dan bertanggung jawab supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan.
         Sementara itu,menurut Tead ; Terr ; Hoyt (dalam kartono,2003) pengertian kepemimpinan adalah kegiatan atau seni memengaruhi orang lain agar mau bekerja sama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.Dengan kata lain,kepemimpinan adalh sifat penerapan pengaruh oleh seorang anggota kelompok atau organisasi terhadap anggota lainnya guna mendorong kelompok atau organisasi mencapai tujuan-tujuannya.Kepemimpinan merupakan proses memengaruhi dalam “menentukan organisasi,”memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan,mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayannya (Rivai,2005).Kepemimpinan telah didefinisikan sebagai proses memengaruhi aktivitas seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Dua peran penting yang terkandung dalam kepemimpinan yaitu :
1.       Menyelesaikan tugas,artinya tujuaan utama dibentuknya kelompok di bawah pemimpin.Para pemimpin harus memastikan bahwa tujuan kelompok akan tercapai.
2.       Menjaga hubungan yang efektif,yaitu hubungan antara pemimpin dengan anggota kelompoknya maupun hubungan antarkelompok.
       Kemampuan manajerial seorang pemimpin yang tampak dalam            merencanakan,menggerakkan,mengoordinasikan,dan mengawasi serta mengendalikan kegiatan dilingkungan organisasi amat dipengaruhi oleh perilaku pemimpin sebagai kegiatan nyata pemimpin dalam jabatan yang sedang diemban olehnya.
      Seorang pemimpin harus memiliki keterampilan manajemen (manajerial skill) maupun keterampilan teknis (technical skill).Semakin rendah kedudukan teknis  pemimpin dalam organisasi semakin tinggi keterampilan teknisnya.Aktivitas yang dijalankan adalah aktivitas ang bersifat operasional.Semakin tinggi kedudukan seorang pemimpin dalam suatu organisasisemakin menonjol keterampilan manajemen adapun aktivitas yang dijalankan adalah yang bersifat konsepsional.








B.      PENDEKATAN GAYA KEPEMIMPINAN

       Pendekatan gaya kepemimpinan menekankan pada perilaku seorang pemimpin.Ia berbeda dengan pendekatan sifat yang menekankan pada karakteristik pribadi pemimpin,juga berbeda dengan pendekatan keahlian yang menekankan pada kemampuan administrative pemimpin.Pendekatan gaya kepemimpinan berfokus pada apa benar-benar dilakukan oleh pemimpin dan bagaimana cara mereka bertindak.Pendekatan ini juga memperluas kajian kepemimpinan dengan bergerak kearah tindakan-tindakan pemimpin terhadap anak buah di dalam aneka situasi.
Pendekatan ini menganggap kepemimpinan apapun selalu menunujukkan dua perilaku umum :
1.       Perilaku kerja (memfasilitasi tercapainya tujuan mereka membantu anggota kelompok mencapai tujuannya).
2.       Perilaku hubungan (membantu bawahan untuk merasa nyaman baik dengan diri sendiri,dengan orang lain,maupun dengan situasi di mana mereka berada .
      Tujuan utama pendekatan gaya kepemimpinan adalah menjelaskan bagaimana pemimpin mengombinasikan kedua jenis dalam upayanya mencapai tujuan organisasi.

Ada beberapa pendekatan mengenai gaya kepemimpinan yaitu sebagai berikut :

1.       Pendekatan Kisi Kepemimpinan Tim
        Salah satu pendekatan gaya kepemimpinan yang paling banyak didiskusikan adalah yang dikemukakan oleh Robert R.Blake dan Jane S. Mouton (1981),yang semula disebut kisi eksekutifal (managerial grid ) tapi kini disebut kisi kepemimpinan (tahun 1991). Kisi ini berasal dari hal-hal yang mendasari perhatian  eksekutif.Perhatiannya pada tugas atau pada hal-hal yang telah direncanakan untuk diselesaikan oleh organisasi yang memengaruhi mereka.
Gaya kepemimpinan Blake dan Mouton tersebut lebih jelasnya dapat dijelaskan  sebagai berikut:
·         Gaya Taat Otoritas (Authority-Compliance)
Gaya ini menggambarkan pemimpin yang dikendalikan oleh pencapaian hasil atau target,dengan sedikit atau bahkan tidak ada perhatian pada manusia kecuali dalam rangka keterlibatan mereka dalam menyelesaikan pekerjaan.Komunikasi pemimpin dengan pengikutnya terbatas dan diadakan sekadar untuk memberi instruksi pekerjaan.
·         Gaya Country-Club
Gaya Country-club menggambarkan pemimpin dengan perhatian tinggi pada orang,tetapi rendah perhatiannya pada hasil atau produksi.Pemimpin ini focus pada pemenuhan kebutuhan pekerjaan sebagai manusia  dan penciptaan lingkungn yang kondusif dalam pekerjaan.
·         Gaya Pengalah (Impoverished Style Management)
Gaya lemah menggambarkan pimpinan yang punya sedikit perhatian baik atas orang ataupun produksi.pemimpin bergaya ini berlaku sebagai pemimpin,tetapi sesungguhnya terasing dan tidak melibatkan diri dalam organisasi.
·         Gaya Jalan Tengah (Middle of the road style management)
Gaya jalan tengah menggambarkan pemimpin yang kompromistik,yang punya perhatian menengah atas pekerjaan dan perhatian tengah atas orang-orang yang melakukan pekerjaan.
·         Gaya Tim (Team Style Management)
Gaya manajemen tim memberi tekanan seimbang,baik pada pekerjaan ataupun hubungan antarpersonal.Gaya ini mendorong derajat partisipasi dan kerja tim yang tinggi di dalam organisasi sehingga mampu memuaskan kebutuhan dasar pekerja agar mereka tetap merasa terlibat dan punya komitmen kuat dalam pekerjaannya.




2. Pendekatan Gaya Situasional
                Pendekatan Gaya situasional dikembangkan oleh Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard pada tahun 1969.  Pendekatan kepemimpinan situasional fokus pada fenomena kepemimpinan di dalam suatu situasi unik. Premis dari pendekatan ini adalah perbedaansituasi membutuhkan gaya kepemimpinan yang berbeda.
                Pendekatan kepemimpinan situasional menekakan bahwa kepemimpinan terdiri atas dimensi arahan dan dimensi dukungan.
                Kepemimpinan situasional menyediakan empat pilihan gaya kepempinan, yaitu :
1.                   Pemberitahuan (Telling)
Gaya Pemberitahuan adalah gaya kepemimpinan yang selalu memberikan instruksi yang jelas, arahan yang rinci, serta mengawasi pekerjaan dari jarak dekat.
2.                   Penjual (Selling)
Gaya Partisipasif adalah gaya kepempinan yang menyediakan pengarahan, mengupayakan komunikasi dua-arah dan membantu membangun motivasi dan rasa percaya diri pekerja.
3.                   Partisipatif (Participating)
Gaya Partisipatif adalah gaya pemimpin yang mendorong pekerja untuk saling berbagi gagasan dan sekaligus memfasilitasi pekerjaan bawahan dengan semangat yang mereka tunjukkan.
4.                   Pendelegasian(Delegating)
Gaya pendelegasian adalah gaya kepemimpinan yang cenderung mengalihkan tanggungjawab atas proses pembuatan keputusan dan pelaksanaannya.

3.Pendekatan Kepemimpinan Tim
                Di dalam sebuah tim, fungsi utama kepempinan adlah berupaya mencapai tujuan oganisasi(tim) secara kolektif, bukan individual. Tim umumnya memiliki seorang pemimpinan yang telah ditentukan.
                Kepemimpinan di dalam tim umumnya digariskan ke daftar serangkaian keputusan utama yaitu sejumlah kondisi yang menentukan kapan dan bagaimana seorang pemimpinbaru ikut campur guna meningkatkan fungsi tim. Pertimbangan pertama apakah lebih baik meneruskan pengamatan dan memonitoring tim ataukah mengintervensi kegiatan tim dengan mengambil tindakan. Pertimbangan kedua, apakah intervensi yang dilakukan lebih kepada tugas yang tengah dilaksanakan ataukah dalam konteks hubungan yang dengan anggota tim lain. Pertimbangan ketiga apakah intervensi sebaiknya dilakukan pada tingkat internal (di dalam tim itu sendiri) atau eksternal (dilingkungan sekeliling tim).
                Tindakan yang juga umum diambil dalam kepemimpinan tim terbagi menjadi dua : internal dan eksternal. Tindakan internal artinya adalah tindakan yang dilakukan di dalam tim itu sendiri, yang terdiri atas tugas dan hubungan. Tindakan eksternal artinya tindakan yang dilakukan pada lingkungan sekeliling tim. Tindakan kepemimpinan dalam tugas internal terdiri atas model yang dilakukan pemimpin untuk meningkatkan kinerjanya, yaitu:
1.                   Fokus pada hasil (menjelaskan, mempeoleh persetujuan)
2.                   Merinci hasil (perencanaan, pemvisian, pengorganisasian, penjelasan peran, dan pendelegasian wewenang)
3.                   Pemfasilitasian proses pembuatan keputusan (penginformasian, pengendalian, pengkoordinasian, pemedisan, pensintesisan, dan pemfokusan pada masalah)
4.                   Pelatihan anggota tim sehubungan keahlian yang dibutuhkan dalam pekerjaannya (pendidikan pengembangan)
5.                   Pemeliharaan standar prima (penilaian tim dan kinerja individual, pebahasan kinerja yang tidak sesuai).

Tindakan hubungan dalam konteks internal dibutuhkan untuk meningkatkan skill interpersonal anggota tim sekaligushubungan yang terjalin di dalam tim. Tindakan dalam konteks ini terdiri atas :
a.                   Pelatihan untuk meningkatkan skill interpersonal
b.                   Penguatan kerjasama diantara anggota tim.
c.                    Pengelolaan konflik agar konflik tetap ada di tataran intelektual, bukan pribadi.
d.                   Penguatan komitmen tim.
e.                   Pemutusan kepercayaan dan dukungan yang dibutuhkan oleh anggota tim.
f.                    Bertindak fair dan konsisten dalam perilaku-perilaku yang bersifat prinsipil.

Tindakan kepemimpinan eksternal adalah tindakan yang dibutuhkan untuk menjaga tim agar terlindung dari dampak lingkungan eksternal,tetapi disaat sama, mempertahankan hubungan tim dengan lingkungan eksternal. Termauk ke dalam tindakan ini adalah :
a.                   Memperoleh akses atas informasi demi membangun aliansi eksternal.
b.                   Membantu tim yang telah terkena pengaruh lingkungan.
c.                    Bernegosiasi dengan manajemen senior seputar pengakuan, dukungan, dan sumber daya yang perlu bagi kelangsungan tim.
d.                   Perlindungan anggota tim dari penetrasi lingkungan internal organisasi maupun eksternal organisasi.
e.                   Melakukan pengujian atsindikator efektivitas yang berasal dari lingkungan eksternal, misalnya survei kepuasan pelanggan.
f.                    Menyediakan informasi dari luar yang dibutuhkan oleh anggota tim.



4.                   Kepemimpinan Transformasional
Konsepsi kepemimpinan transformasi onal pertama kali dikemukakan oleh James McGregor Burns yang menerapkannya dalam konteks politik dan selanjutkan ke dalam konteks organisasional oleh Bernard Bass. Dalam kaitannya dengan kepemimpinan transformasional, Bernard Bass (stone 2004) mengatakan sebagai berikut:
“Transformational leaders transform the personal values of followers to support the vision and goals of the organization by fostering an environtment were relationship can be formed and by estabilishing a climate of trust in which visions can be shared.”

Selanjutnya secara operasional Bernard Bass (Gill, 2010) memaknai kepemimpinan transformasional sebagai berikut : “Leadership and performance beyond expectations”. Sedangkan Tracy and Hinkin (Gill, 2010) memaknai kepemimpinan transformasional sebagai berikut :
                “The process of influncing major changes in the attitudes and assumptions of organization members and building commitment for the organization’s mission or objectives”.
“Proses memengaruhi perubahan besar dalam sikap dan asumsi anggota organisasi dan membangun komitmen untuk misi atau tujuan organisasi”.

Menurut Burn, Kepemimpinan bukan saja pemimpin yang memungkinkan terjadinya proses pertukaran dengan kemauan atau keinginan para pengikutnya, atau pemimpin transaksional, apalagi bagi para pengikutnya yang baru belajar, tetapi dalam proses selanjutnya perlu pemimpinyang mengangkat dan mengarahkan pengikut ke arah yang benar k, ke arah moralitas dan motivasi yang lebih tinggi atau sering disebut sebagai Pemimpin Transformasional.
James MacGregor Burns, menyatakan :
“But transformational leadership ultimately becomes moral in that it raises the level of human conduct and ethical aspiration of both leader and the led, and thus it has a transforming effect on both”.
“Tapi kepemimpinan transformasional  pada akhirnya menjadi moral dalam bahwa hal itu menimbulkan tingkah perilaku manusia dan aspirasi etis dari keduapemimpin dan yang dipimpin, dan dengan demikian memiliki efek transformasi pada keduanya”.
                Menurut Burns kepemimpinan tanspormasional adalah sebuah kepemimpinan yang melibatkan seluruh elemen anggota organisasi/masyarakat dalam kepemimpinannya.
                Dalam buku yang berjudul “Improving Organisational effectivenes through trasformational leadership”, Bass dan Avolio (1994) mengemukakan bahwa kepemimpinan tranformasional mempunyai empat dimensi yang disebut sebagai “Defour I’s”.
·         Dimensi pertama disebunya sebagai Idealize Influence (pengaruh ideal) digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi, menghormati dan sekaligus memprcayainya.
·         Dimensi kedua disebut sebgai Infirational motivations (motifasi insfirasi). Pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan, mendemonstrasikan komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi dan mampu menggugah spirit  tim dalam organisasi melalui penumbuhan antusiasme dan optimisme.
·         Dimensi tiga disebut sebagai Intellectual Stimulation (stimulasi intelektual). Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru, memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan, dan memberikan motivasi kepada bawahan untuk mecari pendekatan-pendekatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi.
·         Dimensi keempat disebut sebagai Individualize Consideration (considerasi individu). Pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan pengembangan karir.




DAFTAR PUSTAKA

Ruliana, Poppy. (2014). KOMUNIKASI ORGANISASI. Jakarta : Rajawali Pers.

  




MANAJEMEN SEKOLAH
MANAJEMEN KEUANGAN
1.      Konsep manajemen keuangan
Uang merupakan salah satu sumber daya pendidikan yang dianggap penting. Uang termasuk sumber daya yang langka dan terbatas. Oleh karena itu, uang perlu dikelola dengan efektif dan efisien agar membantu pencapaian tujuan pendidikan. Pendidikan sebagai investasi akan menghasilkan manusia-manusia cerdas yang berpengetahuan, sikap dan keterampilan yang dibutuhkan dalam pembangunan suatu bangsa. Organisasi pendidikan dikategorikan sebagai organisasi publik yang bersifat nirlaba (nonprofit), bukan untuk mencari keuntungan seperti halnya perusahaan. Oleh karena itu, manajemen keuangannya memiliki keunikan sesuai dengan misi dan karakteristik pendidikan.
Dalam penyelenggaraan pendidikan, keuangan dan pembiayaan merupakan potensi yang sangat menentukan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kajian manajemen pendidikan. Komponen keuangan dan pembiayaan pada suatu sekolah merupakan komponen produksi yang menentukan terlaksananya kegiatan-kegiatan proses belajar mengajar di sekolah bersama komponen-komponen lain (Mulyasa, 2011:47).
Manajemen keuangan adalah manajemen terhadap fungsi-fungsi keuangan. Sedangkan fungsi keuangan merupakan kegiatan utama yang harus dilakukan oleh mereka yang bertanggung jawab dalam bidang tertentu. Fungsi manajemen keuangan adalah menggunakan dana dan mendapatkan dana (Suad Husnan, 1992:4). Manajemen keuangan adalah kegiatan mengelola dana untuk dimanfaatkan sesuai kebutuhan secara efektif dan efisien (Rugaiyah, 2011:67).
Tujuan Manajemen Keuangan adalah untuk mewujudkan tertib administrasi dan bisa dipertanggungjawabkan berdasarkan ketentuan yang sudah digariskan (Sobri Sutikno, 2012:90). Inti dari manajemen keuangan adalah pencapaian efisiensi dan keefektifan. Oleh karena itu, selain mengupayakan ketersediaan dana yang memadai untuk kebutuhan pembangunan maupun kegiatan rutin operasional di sekolah, juga perlu diperhatikan faktor akuntabilitas dan transparansi setiap penggunaan keuangan, baik yang bersumber dari pemerintah, masyarakat dan sumber-sumber lainnya.


Menurut Jones (1985), tugas manajemen keuangan dapat dibagi ke dalam tiga fase, yaitu financial planning, implementation and evaluation. Pertama,yaitu financial planning (perencanaan financial) yang disebut budgeting (penganggaran), merupakan kegiatan mengkoordinasi semua sumber daya yang tersedia untuk mencapai sasaran yang diinginkan secara sistematis tanpa menyebabkan efek samping yang merugikan. Kedua, implementation involves accounting (pelaksanaan anggaran) ialah kegiatan berdasarkan rencana yang telah dibuat dan kemungkinan terjadi penyesuaian jika diperlukan. Ketiga, evaluation involves merupakan proses evaluasi terhadap pencapaian sasaran.
Permasalahan yang terjadi dalam lembaga pendidikan terkait dengan manajemen keuangan antara lain sumber dana yang terbatas, pembiayaan program yang tersendat, tidak mendukung visi, misi dan kebijakan sebagaimana tertulis dalam rencana strategis lembaga pendidikan. Di satu sisi lembaga pendidikan perlu dikelola dengan baik (good governance), sehingga menjadi lembaga pendidikan yang bersih dari berbagai penyimpangan yang dapat merugikan pendidikan.

2.      Implementasi Manajemen keuangan di Sekolah
Setiap sekolah seyogyanya memiliki rencana strategis untuk periode waktu tertentu yang didalamnya mencakup visi, misi dan program, serta sasaran tahunan. Oleh karena itu pembiayaan pendidikan yang terintegrasi dan komprehensif dengan rencana strategi di sekolah dan diarahkan untuk ketercapaian tujuan lembaga sudah didokumentasikan.
Pada dasarnya sumber pembiayaan untuk sekolah mengenal dua macam pembiayaan, yaitu: pembiayaan rutin dan pembiayaan pembangunan. Biaya rutin adalah biaya yang harus dikeluarkan dari tahun ke tahun seperti untuk gaji pegawai dan biaya operasional. Untuk memperoleh biaya rutin, pimpinan sekolah harus dapat menyusun anggaran sekolah tiap tahunnya. Pimpinan sekolah juga harus dapat memotivasi komite sekolah, sekolahnya dan masyarakat setempat dalam rangka pengumpulan dana yang diperoleh harus dikelola secara efektif untuk menjamin agar peserta didik memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. Sedangkan biaya pembangunan, misalnya biaya pembelian atau pengembangan tanah, penambahan pembangunan gedung, furniture, dan lain-lain.
Komponen utama manajemen keuangan meliputi, (1) prosedur anggaran; (prosedur akuntansi keuangan; (3) pembelajaran, pergudangan, dan prosedur pendistribusian; (4) prosedur investasi; dan (5) prosedur pemeriksaan. Dalam pelaksanaannya, manajemen keuangan ini menganut asas pemisahan tugas antara fungsi otorisator, ordonator dan bendaharawan.
Otorisator adalah pejabat yang diberi wewenang untuk mengambil tindakan yang mengakibatkan penerimaan dan pengeluaran anggaran. Ordonator adalah pejabat yang berwenang melakukan pengujian dan memerintahkan pembayaran atas segala tindakan yang dilakukan berdasarkan otorisasi yang ditetapkan. Adapun bendaharawan adalah pejabat yang berwenang melakukan penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran uang atau surat-surat berharga lainnya yang dapat dinilai dengan uang serta diwajibkan membuat perhitungan dan pertanggungjawaban (Mulyasa, 2011:49).
Tujuan utama manajemen keuangan sekolah adalah:
a.       Menjamin agar dana yang tersedia dipergunakan untuk kegiatan harian sekolah dan menggunakan kelebihan dana untuk diinvestasikan kembali
b.      Memelihara barang-barang (asset) sekolah, dan
c.       Menjaga agar peraturan-peraturan serta praktik penerimaan, pencatatan dan pengeluaran uang diketahui dan dilaksanakan

Kerangka kerja manajemen keuangan di sekolah mencakup pengertian sebagai berikut:
a.    Pembukuan yang cermat dan akurat
b.    Pertanggung jawaban yang luwes
c.    Pertukaran pengeluaran
d.   Kemudahan membelanjakan uang bagi kepala sekolah, bila tidak akan menghambat kebebasan sekolah dalam bertransaksi apa yang dibutuhkannya
e.    Kebijakan keuangan dan
f.     Alokasi dana yang tepat
Kepala sekolah harus menguasai betul apa yang dimiliki dan dibutuhkan oleh tiap bagian. Agar dapat mengalokasikan dana dengan tepat, perlu mengikutsertakan staf dan para pembantu kepala sekolah dalam proses penentuan alokasi dana. Selain enam pengertian tadi, penerimaan dana sekolah perlu mendapat perhatian pimpinan sekolah. Hal ini berkaitan dengan buku catatan penerimaan dana sekolah, kepala sekolah perlu memahami tentang tujuan diadakannya Buku Catatan Penerimaan Dana Sekolah, informasi yang harus tercantum dalam setiap penerimaan dan memberdayakan uang tunai.
Selain itu kepala sekolah perlu memahami praktik-praktik pemanfaatan jasa perbankan dan jenis-jenis rekeningnya. Dia juga perlu memahami cara untuk pengamanan dana selama bertransaksi dengan baik, penarikan dana dan cara mencegah pemalsuan. Kepala sekolah hendaknya benar benar memahami dan dapat menjelaskan fungsi tujuan manfaat pembukuan kepada staf keuangan.
Hal-hal yang berkaitan dengan ini antara lain:
1)        Buku pos (vate book)
 Buku pos pada hakekatnya memuat informasi beberapa dana yang masih tersisa untuk tiap pos anggaran. Buku pos mencatat peristiwa-peristiwa pembelanjaan uang harian. Dari buku pos kepala sekolah dengan mudah dapa melihat apakah sekolah telah berlebih membelanjakan uang. Karena itu, dianjurkan agar kepala sekolah menyelenggarakan buku tersebut.
2)        Faktur
Faktur dapat berupa buku atau lembaran lepas yang dapat diarsipkan. Faktur berisi rincian tentang: (a) maksud pembelian; (b) tanggal pembelian; (c) jenis pembelian; (d) rincian barang yang dibeli, (e) jumlah pembayaran, dan (f) tanda tangan pemberi kuasa (kepala sekolah).
Hal-hal penting yang perlu diperhatikan antara lain:
a)      Harus ada nomor untuk diagendakan
b)      Kuitansi pembelian harus dilampirkan
c)      Faktur untuk mempertanggungjawabkan penggunaan uang umum.
3)        Buku kas
Mencatat rincian tentang penerimaan dan pengeluaran uang serta sisa saldo secara harian dan pada hari yang sama, misalnya pembelian kapur tulis. Dengan demikian kepala sekolah akan segera tahu tentang keluar masuknya uang pada hari yang sama. Termasuk yang arus dicatat pada buku kas adalah Cheque yang diterima dan dikeluarkan pada hari itu.
4)        Lembar cek
Merupakan alat bukti bahwa pembayaran yang dikeluarkan adalah sah. Lembar cek dikeluarkan bila menyangkut tagihan atas pelaksanaan suautu transaksi, misalnya barang yang dipesan sudah dikirimkan dan catatan transaksinya benar. Orang berhak menandatangani lembar cek adalah kepala sekolah atau petugas keuangan.
5)        Jurnal
Sebagai pengawas keuangan kepala sekolah harus membuka buku jurnal dimana seluruh transaksi keuangan semuanya dicatat.
6)        Buku besar
Ada data keuangan berarti informasi dan jurnal hendaknya dipindahkan  ke buku besar atau buku kas induk pada setiap akhir bulan. Buku besar mencatat kapan terjadinya transaksi keuangan, keluar masuknya uang pada saat itu dab neraca saldonya.
7)        Buku kas pembayaran uang sekolah
Berisi catatan tentang pembayaran uang sekolah siswa menurut tanggal pembayaran, jumlah dan sisa tunggakan atau kelebihan pembayaran sebelumnya. Pencatatan untuk tiap pembayaran harus segera dilakukan untuk menghindari timbulnya masalah karena kuitansi hilang, lupa menyimpan atau karena pekerjaan yang menjadi bertumpuk.
8)        Buku kas piutang
Berisi daftar/catatan orang yang berutang kepada sekolah menurut jumlah uang yang berutang, tanggal pelunasan, dan sisa utang yang belum dilunasi. Informasi daam buku ini harus selalu dalam keadaan mutakhir untuk melihat jumlah uang milik sekolah yang belum kembali.
9)     Neraca percobaan
Tujuannya adalah untuk mengetahui secara tepat keadaan neraca pertanggung jawaban keuangan secara cepat, misalnya mingguan atau dua mingguan. Hal ini memungkinkan kepala sekolah sewaktu-waktu (selama tahun anggaran) menentukan hal yang harus didahulukan dan menangguhkan pengeluaran yang terlalu cepat dari pos tertentu.



MANAJEMEN SARANA DAN PRASARANA
1.      Konsep Manajemen Sarana dan Prasarana
  Ketersediaan sarana dan prasarana merupakan salah satu komponen penting yang harus terpenuhi dalam menunjang sistem pendidikan. Menurut Ketentuan Umum Permendiknas no. 24 tahun 2007, sarana adalah perlengkapan pembelajaran yang dapat dipindah-pindah, sedangkan prasarana adalah fasilitas dasar untuk menjalankan fungsi sekolah/madrasah. Sarana pendidikan antara lain gedung, ruang kelas, meja, kursi serta alat-alat media pembelajaran. Sedangkan yang termasuk prasarana antara lain seperti halaman, taman, lapangan, jalan menuju sekolah dan lain-lain. Tetapi jika dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengajar, maka komponen tersebur merupakan sarana pendidikan.
Menurut Rugaiyah (2011:63), Manajemen sarana dan prasarana adalah kegiatan pengelolaan sarana dan prasarana yang dilakukan oleh sekolah dalam upaya menunjang seluruh kegiatan baik kegiatan pembelajaran maupun kegiatan lain sehingga seluruh kegiatan berjalan dengan lancar. Menurut Asmani (2012:15), manajemen sarana dan prasarana adalah manajemen sarana sekolah dan sarana bagi pembelajaran, yang meliputi ketersediaan dan pemanfaatan sumber belajar bagi guru, siswa serta penataan ruangan-ruangan yang dimiliki.
Manajemen sarana dan prasarana pendidikan bertugas mengatur dan menjaga sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan. kegiatan pengelolaan ini meliputi kegiatan perencanaan, pengadaan, pengawasan, inventarisasi dan penghapusan serta penataan ( Mulyasa, 2011:50).
Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih, rapi, dan indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. Di samping itu juga diharapkan tersedianya alat-alat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif, kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran, baik oleh guru sebagai pengajar maupun peserta didik sebagai pelajar. Oleh karena itu, perlu diperhatikan persyaratan pengadaan sarana dan prasarana dengan membuat daftar prioritas keperluan pada setiap sekolah oleh tim dan tenaga kependidikan yang profesional pada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dengan melakukan “need assesment” sekolah.
Manajemen sarana prasarana dan manajemen keuangan, harus dilakukan sesuai dengan fungsi-fungsi manajemen. Menurut Indriyanto (dalam Sagala, 2010:220), dua fenomena yang dapat diamati berkenaan dengan ketersediaan sarana dan prasarana adalah: (1) Fenomena keterbatasan, yaitu keterbatasan sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor yang menonjol dalam pelaksanaan kebijakan dan program sekolah yang berada di kota apalagi yang di desa; (2) Pemanfaatan, yaitu di lain pihak unit-unit kerja dan sekolah yang telah memiliki sarana dan prasarana yang memadai, ternyata kurang memanfaatkannya, sehingga ketersediaan sarana dan prasarana tidak dilihat dari fungsinya.
Menurut Everard, Moris dan Ian Wilson (2004: 209), sekolah dapat dengan mudah menjadi tempat untuk pembuangan barang-barang yang tidak dibutuhkan oleh sekolah itu sendiri, karena tidak adanya “need assesment” sekolah. Oleh karena itu, terdapat prinsip-prinsip dalam proses mendapatkan nilai terbaik dari pengadaan sarana dan prasarana di sekolah. Ke empat prinsip “best value” tersebut menurut ofsted yang pertama adalah challenge (tantangan), kita harus menimbang apakah tujuan dari pengadaan sarana prasarana yang akan dibeli. Kedua, compare (membandingkan), misalnya membandingkan harga. Ketiga consult (konsultasi), misalnya siapa yang akan dipengaruhi dengan keputusan untuk membeli komputer baru. Keempat, complete (bersaing) yaitu, untuk mendapatkan pelayanan yang sebaik mungkin dengan harga yang sangat terjangkau, misalnya dengan proses tender dalam pengadaan sarana dan prasarana di sekolah.
Permasalahan yang terjadi dalam lembaga pendidikan terkait dengan manajemen keuangan antara lain sumber dana yang terbatas, pembiayaan program yang tersendat, tidak mendukung visi, misi dan kebijakan sebagaimana tertulis dalam rencana strategis lembaga pendidikan. Di satu sisi lembaga pendidikan perlu dikelola dengan baik (good governance), sehingga menjadi lembaga pendidikan yang bersih dari berbagai penyimpangan yang dapat merugikan pendidikan.

2.        Fungsi Manajemen Sarana dan Prasarana
a.         Perencanaan/Analisis Kebutuhan
Perencanaan merupakan kegiatan analisis kebutuhan terhadap segala kebutuhan dan  perlengkapan yang dibutuhkan sekolah untuk kegiatan pembelajaran peserta dan didik dan kegiatan penunjang lainnya. Kegiatan ini dilakukan secara terus-menerus selama kegiatan sekolah berlangsung. Kegiatan ini biasa dilakukan pada awal tahun pelajaran dan disempurnakan tiap triwulan atau tiap semester. Perencanaan dapat dilakukan oleh kepala sekolah, guru kelas dan guru-guru bidang studi dan dibantu oleh staf sarana dan prasana.
1)        Prosedur Perencanaan
a)        Mengadakan analisa materi dan alat/media yang dibutuhkan
b)        Seleksi terhadap alat yang masih dapat dimanfaatkan
c)        Mencari dan atau menetapkan dana
d)       Menunjuk seseorang yang akan diserahkan untuk mengadakan alat dengan pertimbangan keahlian dan kejujuran.
2)        Hal-hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan sarana dan prasarana pendidikan
a)        Perencanaan pengadaan barang harus dipandang sebagai bagian integral dari usaha kualitas proses belajar mengajar
b)        Perencanaan harus jelas, kejelasan suatu rencana dapat dilihat pada:
c)        Tujuan dan sasaran atau target yang harus dicapai, penyusunan perkiraan biaya/harga keperluan pengadaan
d)       Jenis dan bentuk tindakan/kegiatan yang akan dilaksanakan
e)        Petugas pelaksanaan
f)         Bahan dan peralatan yang dibutuhkan
g)        Kapan dan dimana kegiatan akan dilaksanakan
h)        Bahwa suatu perencanaan harus realistis, yaitu dapat dilaksanakan dengan jelas, terprogram, sistematis, sederhana, luwes, fleksibel, dan dapat dilaksanakan
i)          Rencana harus sistematis dan terpadu
j)          Rencana harus menunjukkan unsur-unsur insani ataupun noninsani yang baik
k)        Memiliki struktur berdasarkan analisis
l)          Berdasarkan atas kesepakatan dan keputusan bersama pihak perencana
m)      Fleksibel dan dapat menyesuaikan dengan keadaan, perubahan situasi dan kondisi yang tidak disangka-sangka
n)        Dapat dilaksanakan dan berkelanjutan
o)        Menunjukkan skala prioritas
p)        Disesuaikan dengan flapon anggaran
q)        Mengacu dan berpedoman pada kebutuhan dan tujuan yang logis
r)         Dapat didasarkan pada jangka pendek (1 tahun), jangka menengah (4-5 tahun), dan jangka panjang (10-15 tahun)
b.        Pengadaan
Pengadaan adalah proses kegiatan mengadakan sarana dan prasarana yang dapat dilakukan dengan cara-cara membeli, menyumbang, hibah dan lain-lain. Pengadaan sarana dan prasarana dapat  bebrbentuk pengadaan buku, alat, perabot dan bangunan. Contohnya dapat dilihat pada bagan berikut:
Bagan Pengadaan perlengkapan

B
U
K
U

ALAT

PERABOT

BUKU PELAJARAN, BUKU BACAAN Dll

PENGADAAN DAPAT DILAKUKAN DENGAN:
o   MEMBANGUN BANGUNAN BARU
o   MEMBELI BANGUNAN
o   MENYEWA BANGUNAN
o   MENERIMA HIBAH BANGUNAN
o   MENUKAR BANGUNAN

BANGUNAN

BARANG YANG BERFUNGSI SEBAGAI TEMPAT DUDUK, MENULIS, ISTIRAHAT MENYIMPAN ALAT ATAU BAHAN

PENGADAAN DAPAT DILAKUKAN DENGAN:
o   MEMBELI
o   MENERBITKAN SENDIRI
o   MENERIMA BANTUAN/HADIAH
o   MENUKAR

ALAT KANTOR DAN ALAT PENDIDIKAN

PENGADAAN DAPAT DILAKUKAN DENGAN:
o   MEMBELI
o   MEMBUAT SENDIRI
o   MENERIMA BANTUAN/HADIAH/
HIBAH

PENGADAAN DAPAT DILAKUKAN DENGAN:
o   MEMBELI
o   MEMBUAT SENDIRI
o   MENERIMA BANTUAN/HADIAH/
HIBAH


c.         Penginvetarisasian
Penginvetarisasian adalah kegiatan melaksanakan penggunaan, penyelenggaraan, pengaturan dan pencatatan barang-barang, menyusun daftar barang yang menjadi milik sekolah ke dalam satu daftar inventaris barang secara teratur. Tujuannya adalah untuk menjaga dan menciptakan tertib administrasi barang milik negara yang dipunyai suatu organisasi. Yang dimaksud dengan inventaris adalah suatu dokumen berisi jenis dan julah barang yang ebrgerak maupun yang tidak bergerak yang menjadi milik negara dibawah tanggung jawab sekolah.
d.        Penggunaan atau Pemanfaatan Sarana dan Prasarana
Penggunaan sarana dan prasarana adalah pemanfaatan segala jenis barang yang sesuai dengan kebutuhan secara efektif dan efisien. Dalam hal pemanfaatan sarana, harus mempertimbangkan beberapa hal, antara lain tujuan yang akan dicapai, kesesuaian antar media yang akan digunakan dengan materi yang akan dibahas, tersedianya sarana dan prasarana penunjang dan karakteristik siswa
e.         Pemeliharaan
Pemeliharaan adalah kegiatan merawat, memelihara dan menyimpan barang-barang sesuai dengan bentuk-bentuk jenis barangnya sehingga barang tersebut awet dan tahan lama. Pihak yang terlibat dalam pemeliharaan barang adalah semua warga sekolah yang terlibat dalam pemanfaatan barang tersebut. Dalam pemeliharaan, ada hal-hal khusus yang harus dilakukan oleh petugas khusus pula, seperti perawatan alat kesenian (piano, gitar, dan lain-lain).
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah memberi Panduan Manajemen Sekolah perawatan preventif di sekolah dengan cara membuat tim pelaksana, membuat daftar sarana dan prasarana, menyiapkan jadwal kegiatan perawatan, menyiapkan lembar evaluasi untuk menilai hasil kerja perawatan pada masing-masing bagian dan memberikan penghargaan bagi mereka yang berhasil meningkatkan kinerja peralatan sekolah dalam rangka memningkatkan kesadaran merawat sarana dan prasarana sekolah.
Cara-cara untuk melaksanakan program perawatan preventif di sekolah antara lain memberi arahan kepada tim pelaksana, mengupayakan pemantauan bulanan ke lokasi sarana dan prasarana, menyebarluaskan informasi tentang program perawatan preventif kepada seluruh warga sekolah terutama guru dan peserta didik, dan membuat program lomba perawatan terhadap sarana dan prasarana untuk memotivasi warga sekolah.
f.          Penghapusan
Penghapusan barang inventaris adalah pelepasan suatu barang dari kepemilikan dan tanggung jawab pengurusnya oleh pemerintah ataupun swasta. Penghapusan barang dapat dilakukan dengan lelang dan pemusnahan.
Adapun syarat-syarat penghapusan antara lain:
1)      Barang-barang dala keadaan rusak berat
2)      Perbaikan suatu barang memerlukan biaya besar
3)      Secara teknis dan ekonomis kegunaannya tidak sesuai lagi dengan biaya pemeliharaan
g.         Pertanggungjawaban
Penggunaan barang-barang sekolah harus dipertanggungjawabkan dengan cara membuat laporan penggunaan barang-barang tersebut yang diajukan pada pimpinan.

MANAJEMEN LAYANAN KHUSUS SEKOLAH
1.        Pengertian Manajemen Layanan Khusus
Manajemen layanan khusus di suatu sekolah merupakan bagian penting dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang efektif dan efisien. Sekolah merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dari penduduk bangsa Indonesia. Sekolah tidak hanya memiliki tanggung jawab dan tugas untuk melaksanakan proses pembelajaran dalam mengembangkan ilmu penegetahuan dan teknologi saja, melainkan harus menjaga dan meningkatkan kesehatan baik jasmani maupun rohani peserta didik. Hal ini sesuai dengan UUSPN bab 11 Pasal 4 yang memuat tentang adanya tujuan pendidikan nasional.
Untuk memenuhi tugas dan tanggung jawab tersebut maka sekolah memerlukan suatu manajemen layanan khusus yang dapat mengatur segala kebutuhan peserta didiknya sehingga tujuan pendidikan tersebut dapat tercapai. Manajemen layanan khusus di sekolah pada dasarnya ditetapkan dan di organisasikan untuk mempermudah atau memperlancar pembelajaran, serta dapat memenuhi kebutuhan khusus siswa di sekolah.
Pelayanan khusus diselenggarakan di sekolah dengan maksud untuk memperlancar pelaksanaan pengajaran dalam rangka pencapain tujuan pendidikan di sekolah. Pendidikan di sekolah antara lain juga berusaha agar peserta didik senantiasa berada dalam keadaan baik. Baik disini menyangkut aspek jasmani maupun rohaninya.

Menurut Kusmintardjo (1992:1) sekolah tidak akan berfungsi jika tidak ada sesuatu yang membuatnya berfungsi. Dalam sebuah pendidikan harus mempunyai unsur-unsur yang meliputi administrasi sekolah. Unsur-unsur dalam administrasi sekolah tersebut masing-masing mempunyai fungsi, hubungan, dan ketergantungan dengan komponen-komponen lainnya. Unsur-unsur tersebut meliputi: (a) administrasi murid, (b) administrasi kurikulum, (c) administrasi personil, (d) administrasi materiil, (e) administrasi keuangan, (f) administrasi hubungan sekolah dan masyarakat dan (g) administrasi pelayanan khusus.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen layanan khusus adalah suatu proses kegiatan memberikan pelayanan kebutuhan kepada peserta didik untuk menunjang kegiatan pembelajaran agar tujuan pendidikan bisa tercapai secara efektif dan efisien.

2.        Jenis-Jenis Layanan Khusus
Pelayanan khusus yang diberikan sekolah kepada peserta didik, antar sekolah satu dengan sekolah lainnya pada umumnya sama, tetapi proses pengelolan dan pemanfaatannya yang berbeda. Beberapa bentuk manajemen layanan khusus yang ada di sekolah antara lain:
Beberapa bentuk manajemen layanan khusus yang ada di suatu sekolah antara lain:
a.        Layanan perpustakaan peserta didik
Perpustakaan merupakan salah satu unit yang memberikan layanan kepada peserta didik, dengan maksud membantu dan menunjang proses pembelajaran di sekolah, melayani informasi-informasi yang dibutuhkan serta memberi layanan rekreatif melalui koleksi bahan pustaka.
Menurut Supriyadi (1983) dalam buku Manajemen Peserta Didik oleh Ali Imron mendefinisikan perpustakaan sekolah sebagai perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah guna menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal seperti sekolah, baik sekolah tingkat dasar maupun menengah, baik sekolah umum maupun kejuruan. Selain itu, perpustakaan sekolah adalah salah satu unit sekolah yang memberikan layanan kepada peserta didik di sekolah sebagai sentra utama, dengan maksud membantu dan menunjang proses belajar mengajar di sekolah, melayani informasi-informasi yang dibutuhkan serta memberikan layanan rekreatif melalui koleksi bahan pustaka (Imron, 1995:187). Dari definisi-definisi tersebut tampaklah jelas bahwa perpustakaan sekolah merupakan  suatu unit pelayanan sekolah guna menunjang proses belajar mengajar di sekolah.
b.        Layanan kesehatan peserta didik
Layanan kesehatan di sekolah biasanya dibentuk sebuah wadah bernama Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Usaha kesehatan sekolah adalah usaha kesehatan masyarakat yang dijalankan sekolah.
Menurut Jesse Ferring William pada buku Pengelolaan Layanan Khusus Di sekolah oleh Kusmintardjo (1992) mendefinisikan layanan kesehatan adalah sebuah klinik yang didirikan sebagai bagian dari Universitas atau sekolah yang berdiri sendiri yang menentukan diagnosa dan pengobatan fisik  dan penyakit jiwa dan dibiayai dari biaya khusus dari semua siswa. Selain itu layanan kesehatan juga dapat diartikan sebagai usaha sekolah dalam rangka membantu (mungkin bersifat sementara ) murid-muridnya yang mengalami persoalan yang berkaitan dengan kesehatan.
Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa layanan kesehatan peserta didik adalah suatu layanan kesehatan masyarakat yang dijalankan di sekolah dan menjadikan peserta didik sebagai sasaran utama, dan personalia sekolah yang lainnya sebagai sasaran tambahan (Imron, 1995:154)
c.         Layanan asrama peserta didik
Bagi para peserta didik khususnya jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, terutama bagi mereka yang jauh dari orang tuanya diperlukan diperlukan asrama. Selain manfaat untuk peserta didik, asrama mempunyai manfaat bagi para pendidik dan petugas asrama tersebut.
d.        Layanan bimbingan dan konseling
Layanan bimbingan dan konseling adalah proses bantuan yang diberikan kepada siswa dengan memperhatikan kemungkinan dan kenyataan tentang adanya kesulitan yang dihadapi dalam rangka perkembangan yang optimal, sehingga mereka memahami dan mengarahkan diri serta bertindak dan bersikap sesuai dengan tuntutan dan situasi lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan bimbingan dan konseling adalah salah satu kegiatan bantuan dan tuntunan yang diberikan kepada individu pada umumnya dan siswa pada khususnya di sekolah dalam rangka meningkatkan mutunya.
e.         Layanan kafetaria peserta didik
Kantin/ warung sekolah diperlukan adanya di tiap sekolah supaya makanan yang dibeli peserta didik terjamin kebersihannya dan cukup mengandung gizi. Para guru diharapkan sekali-kali mengontrol kantin sekolah dan berkonsultasi dengan pengelola kantin mengenai makanan yang bersih dan bergizi. Peran lain kantin sekolah yaitu supaya para peserta didik tidak berkeliaran mencari makanan keluar lingkungan sekolah.
Layanan kafentaria adalah layanan makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh peserta didik disela-sela mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah sesuai dengan daya jangkau peserta didik. Makanan dan minuman yang tersedia di kafentaria tersebut, terjangkau dilihat dari jumlah uang saku peserta didik, tetapi juga memenuhi syarat kebersihan dan cukup kandungan gizinya.
f.          Layanan laboratorium peserta didik
Laboratorium diperlukan peserta didik apabila mereka akan mengadakan penelitiam yang berkaitan dengan percobaan-percobaan tentang suatu obyek tertentu.
Laboratorium adalah suatu tempat baik tertutup maupun terbuka yang dipergunakan untuk melakukan penyelidikan, pecobaan, pemraktekan, pengujian, dan pengembangan. Laboratorium sekolah adalah sarana penunjang proses belajar mengajar baik tertutup maupun terbuka yang dipergunakan untuk melaksanakan praktikum, penyelidikan, percobaan, pengembangan dan bahkan pembakuan.
g.        Layanan koperasi peserta didik
Layanan koperasi mendidik para peserta didik untuk dapat berwirausaha. Hal ini sangat membantu peserta didik di kehidupan yang akan datang.
Koperasi sekolah adalah koperasi yang dikembangkan di sekolah, baik sekolah dasar, sekolah menengah, maupun sekolah dan dalam pengelolannya melibatkan guru dan personalia sekolah. Sedangkan koperasi peserta didik atau biasa disebut disebut koperasi siswa (Kopsis) adalah koperasi yang ada di sekolah tetapi pengelolaanya adalah oleh pesera didik, kedudukan guru di dalam Kopsis adalah sebagai pembimbing saja.





h.        Layanan keamanan
Layanan keamanan yaitu layanan yang dapat memberikan rasa aman pada siswa selama siswa belajar di sekolah misalnya adanya penjagaan oleh satpam sekolah. Dengan adanya petugas keamanan sekolah, dapat membantu suasana aman dan tertib di sekolah, sehingga dapat membantu proses kelancaran pembelajaran dan segala aktivitas sekolah.

3.        Keterkaitan antara Manajemen Layanan Khusus dengan Manajemen Sarana dan Prasarana
Menurut Bafadal (2003:2), sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan, dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. Sedangkan prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah. Dalam hubungannya dengan sarana pendidikan, ada sejumlah pakar pendidikan yang mengklasifikasikan menjadi beberapa macam sarana pendidikan yang ditinjau dari berbagai macam sudut pandang.
Pertama, ditinjau dari habis tidaknya dipakai, ada dua macam sarana pendidikan, yaitu sarana pendidikan yang habis pakai dan sarana pendidikan yang tahan lama. Kedua, ditinjau dari bergerak tidaknya, ada dua macam sarana pendidikan, yaitu sarana pendidikan yang bergerak dan sarana pendidikan yang tidak bisa bergerak. Ketiga, ditinjau dari hubungannya dengan proses belajar mengajar ada dua jenis sarana pendidikan di sekolah, yaitu sarana pendidikan yang secara langsung digunakan dalam proses belajar mengajar, dan sarana pendidikan yang secara tidak langsung berhubungan dengan  proses belajar mengajar.
Sedangkan prasarana pendidikan di sekolah bisa diklasifikasikan menjadi dua macam. Pertama, prasarana pendidikan yang secara langsung digunakan untuk proses belajar mengajar, seperti ruang teori, ruang perpustakaan, ruang praktik keterampilan, dan ruang laboratorium. Kedua, prasarana sekolah yang keberadaannya tidak digunakan untuk proses belajar mengajar, tetapi secara langsung sangat menunjang terjadinya proses belajar mangajar. Beberapa contoh tentang prasarana sekolah jenis terakhir tersebut di antaranya adalah ruang kantor, kantin sekolah, tanah dan jalan menuju sekolah, kamar kecil, ruang usaha kesehatan sekolah, ruang guru, ruang kepala sekolah, dan tempat parkir kendaraan.
Berdasarkan uraian tentang sarana dan prasarana di atas, serta penjelasan mengenai layanan khusus di sekolah pada pembahasan sebelumnya, dapat diketahui kaitan antara pentingnya sarana dan prasarana dengan layanan khusus di sekolah. Suatu layanan khusus tanpa didukung oleh sarana dan prasarana maka pelayanan yang diberikan tidak akan maksimal karena tidak ada fasilitas yang mendukung. Sebagian besar layanan khusus memerlukan tempat dan peralatan dalam memberikan pelayanannya kepada peserta didik. Sebagai contoh pelayanan perpustakaan. Pelayanan perpustakaan ini memerlukan tempat yang berupa ruang perpustakaan serta memerlukan perabot dan peralatan seperti rak, buku, alamari dan lain-lain untuk melakukan kegiatan pelayanan kepada peserta didik. Begitu juga dengan layanan-layanan yang lainnya.

MANAJEMEN HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT

1.        Pengertian Manajemen Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Hubungan sekolah dan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dan masyarakat dengan tujuan meningkatkan pengertian anggota masyarakat tentang kebutuhan pendidikan serta mendorong minat dan kerjasama para anggota masyarakat dalam rangka memperbaiki sekolah (Purwanto, 1995). Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakekatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah (Mulyasa, 2011:50).
Ditinjau dari kepentingan sekolah, pengembangan penyelenggaraan hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan untuk; (1) memelihara kelangsungan hidup sekolahan, (2) meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang bersangkutan, (3) memperlancar proses belajar mengajar, (4) memperoleh dukungan dan bantuan dari masyarakat yang diperlukan dalam pengembangan dan pelaksanaan program sekolah.
Sedangkan jika diitinjau dari kebutuhan masyarakat itu sendiri, tujuan hubungannya dengan sekolah adalah untuk; (1) memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama dalam bidang mental spiritual, (2) memperoleh bantuan sekolah dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat, (3) menjamin relevansi program sekolah dengan kebutuhan masyarakat, dan (4) memperoleh kembali anggota-anggota masyarakat yang makin  meningkat kemampuannya.
2.        Manfaat Hubungan Masyarakat Dalam Lembaga Pendidikan
          Dengan adanya program hubungan masyarakat dalam sebuah lembaga pendidikan maka akan memberikan manfaat yang banyak sekali antara lain:
a.       Terjadi saling pengertian antara sekolah dan masyarakat, sehingga masyarakat dapat membantu kebutuhan-kebutuhan sekolah.
b.      Lewat kegiatan humas para siswa dapat mengetahui kondisi masyarakat sekitarnya.
c.       Dengan adanya kegiatan sekolah dapat melakukan promosi program dan menarik minat masyarakat untuk menyekolahkan putra putrinya di sekolah.
Hubungan antara sekolah dengan orang tua murid dapat dilakukan melalui beberapa hal, antara lain; (1) mengadakan pertemuan antara pihak sekolah dengan wali murid, (2) pihak sekolah mengunjungi orangtua, (3) pihak sekolah mengirim surat kepada orangtua, (4) melibatkan orangtua dalam merencanakan kurikulum, kegiatan ekstrakurikuler, dan lain-lain.
Hubungan guru dengan masyarakat; (1) guru dapat menjadi sponsor pada kegiatan yang menguntungkan seperti kegiatan pengumpulan dana bagi masyarakat yang tertimpa musibah, (2) ikut berpartisipasi bersama masyarakat untuk mengikuti kerja bhakti atau membuat perpustakaan keliling., (3) mengembangkan sebuah kegiatan di lingkungan sekolah seperti presentasi musik, drama, partisipasi dalam perlombaan olahraga, program bekerja sambil belajar dan lain-lain.
3.        Teknik-teknik Hubungan Masyarakat dalam Lembaga Pendidikan
Tanpa bantuan dari masyarakat, sebuah lembaga pendidikan tidak dapat berfungsi dengan baik dan tanpa adanya program yang baik maka sebuah lembaga pendidikan akan gagal mencapai tujuannya. Karena itu, lembaga pendidikan perlu memberikan informasi pada masyarakat tentang lembaga tersebut dengan cara yang baik. Dengan demikian diharapkan masyarakat dapar memperoleh gambaran yang tepat tentang sekolah. Program tentang hubungan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat hendaknya disusun sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan secara terus menerus yang mencakup aspek kegiatan di dalam lembaga pendidikan secara keseluruhan.



Ada beberapa teknik dalam hubungan dengan masyarakat dalam lembaga pendidikan antara lain:
a.      Laporan pada orangtua
Teknik ini maksudnya adalah pihak sekolah memberikan laporan pada orangtua murid tentang kemajuan-kemajuan, prestasi dan kelemahan anak didik pada orangtuanya. Dengan teknik ini, orangtua akan memperoleh penilaian terhadap hasil pekerjaan anaknya, juga terhadap pekerjaan guru-guru di sekolah.
b.      Majalah dan surat kabar sekolah
Majalah sekolah ini diusahakan oleh orangtua dan guru-guru di sekolah yang diterbitkan setiap bulan sekali. Majalah dan surat kabar sekolah ini dipimpin oleh orangtua dan guru-guru bahkan alumni termasuk pula dalam dewan redaksi. Isi majalah menjelaskan tentang kegiata-kegiatan sekolah, karangan guru-guru, orangtua dan peserta didik, pengumuman-pengumuman dan sebagainya.
c.       Pameran sekolah
Suatu teknik yang efektif untuk member informasi tentang hasil kegiatan dan keadaan sekolah pada masyarakat ialah penyelenggaraan pameran sekolah dengan membuat atau menagtur hasil pekerjaan peserta didik diluar sekolah atau di sekolah. Pameran sekolah akan menjadi lebih efektif lagi jika kegiatan-kegiatan itu disiarkan melalui siaran-siaran pers dan radio di tempai itu sehingga dapat menarik banyak orang dalam masyarakat.
d.      Open House
Open house adalah teknik untuk mempersilahkan masyarakat yang berminat untuk meninjau sekolah serta mengobservasi kegiatan-kegiatan dan hasil-hasil pekerjaan peserta didik di sekolah yang diadakan pada waktu-waktu tertentu, misalnya di akhir tahun ajaran.
e.       Kunjungan orangtua peserta didik ke sekolah
Orangtua diberi kesempatan untuk melihat anak-anak mereka belajar di dalam kelas, juga untuk melihat kegiatan-kegiatan di laboratorium, perlengkapan-perlengkapan, gambar-gambar dan sebagainya, sehingga mereka memperoleh gambaran yang jelas tentang kehidupan di sekolah. Setelah itu orangtua diajak berdiskusi dan mengadakan penilaian.
f.        Kunjungan ke rumah peserta didik
kunjungan ke rumah orangtua peserta didik merupakan tenik yang sangat efektif dalam mengadak hubungan dengan orangtua di rumah agar dapat mengetahui latar belakang hidup anak-anak. Banyak masalah yang dapat dipecahkan dengan teknik ini, antara lain masalah kesehatan peserta didik, ketidakhadiran, pekerjaan ruah, masalah kurangnya pengertian orangtua tentang sekolah dan sebagainya.
g.      Laporan Tahunan
Laporan tahunan dibuat oleh kepala sekolah dan diberikan kepada aparat pendidikan lebih atas. Laporan ini berisi masalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh sekolah termasuk kurikulum, personalia, anggaran, biaya dan sebagainya. Selanjutnya aparat tersebut memberikan laporan pada masyarakat.
h.      Organisasi perkumpulan alumni
Organisasi perkumpulan alumni adalah suatu alat yang sangat baik untuk dimanfaatkan dalam memelihara serta meningkatkan hubungan antara sekolah dengan masyarakat. Peserta didik yang telah tamat sekolah biasanya mempunyai kenangan dan mereka merasa berkewajiban moral untuk membantu sekolahnya baik berupa materil maupun moril.
i.        Kegiatan ekstrakurikuler
Apabila ada kegiatan ekstrakurikuler yang sudah dianggap matang untuk dipertunjukkan kepada orangtua peserta didik dan masyarakat, seperti sepakbola, drama, pramuka, pecinta alam dan sebagainya, maka sangat tepat sekali kegiatan itu ditampilkan ke dalam masyarakat. Karena itu, program ekstrakurikuler hendaknya direncanakan dan diatur agar dapat dimanfaatkan dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat.
Secara rinci, Leslie W. Kindred menjelaskan bahwa pada dasarnya teknik hubungan masyarakat dalam lembaga pendidikan itu ada tiga, yaitu:
1.      Membuat presentasi lisan
Kesuksesan administrator sekolah tidak diukur dari kepintaran mereka mengatur keuangan atau karena mereka memiliki kemampuan mengelola kurikulum yang baik, namun masyarakat menial bahwa kesuksesan administrator sekolah adalah seberapa baik mereka menyampaikan ide-ide atau gagasan-gagasan mereka pada masyarakat baik dalam skala kecil maupun besar, sebab kebanyakan waktu mereka adalah untuk bertemu dengan orang-orang, sehingga diperlukan kemampuan dan keahlian tersendiri.
2.      menggunakan alat komunikasi radio
radio adalah alat komunikasi yang sangat efktif untuk menyampaikan pesan atau informasi tentang sekolah pada masyarakat karena radio merupakan alat komunikasi yang mudah di dapat dan bergerak serta bisa dibawa kemana-mana. Masyarakat khususnya orangtua peserta didik yang tidak mendapatkan informasi melalui surat kabar atau karena tidak hadir dalam pertemuan, mereka bisa menerima informasi melalui radio.
Menurut Leslie W. Kindred ada beberapa keutamaan radio bagi sekolah, diantaranya dapat memberikan informasi dengan cepat, praktis bisa di bawa kemana-mana, ringkas dan terjangkau. Teknik-teknik hubungan masyarakat dalam lembaga pendidikan yang diungkapkan oleh pakar diatas sangatlah ideal, apabila teknik-teknik tersebut diatas diterapkan sebuah lembaga pendidikan maka lembaga tersebut akan maju pesat, namun bila melihat kondisi lembaga pendidikan secara umum belum dapat melakukan semua teknik-teknik hubungan masyarakat seperti yang disebutkan diatas karena terkendala oleh dana dan sumberdaya manusia yang akan menjalankan teknik-teknik tersebut.




Daftar Pustaka

Asmani, Jamal Ma’mur. 2009. Manajemen Pengelolaan dan Kepemimpinan         Pendidikan Profesional. Yogyakarta: Diva Press.

Bafadal, Ibrahim. 2003. Manajemen Perlengkapan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.

Everard,K.B, geoffrey Morris and Ian Wilson.(2004). Effectie School Management. London: Paul Chapman Publishing

Imron, Ali. 1995. Manajemen Peserta Didik Di Sekolah. Malang: IKIP Malang.

Kusmintardjo. 1992. Pengelolaan Layanan Khusus di Sekolah (Jilid I). Malang: IKIP Malang.

Mulyasa, E. 2011. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Rosdakarya

Ofsted. 1995. Office for Standards in Education. London

Pidarta, Made. 1988. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: PT. Bina Aksara

Purwanto, Ngalim. 2009. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya

Tim Dosen Universitas Pendidikan Indonesia. 2010. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta



Sumber : http://pribadimam.blogspot.co.id/2013/08/rangkuman-manajemen-sekolah.html

About this blog

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered by Calendar Labs

Popular Posts

About

Blogger Widgets
WidgetBlog Rangga

Search